Betrayal (next story4)

by 07.42 0 komentar
Aku masih terus berjalan memasuki hutan Altophrodite ini semakin dalam. Entah kenapa masih sepi rasanya meski sekarang aku tengah berjalan dengan orang yang sudah 2 kali menyelamatkanku, ya Alca ini. Tapi aku merasa nyaman karna merasa ada yang melindungi, meski dengan kemampuanku seperti ini yang sebenarnya tak patut untuk diremehkan. Tapi, aku tak apa-apa dia hanya belum mengenalku saja.
      "Ada pohon besar disana, aku lelah juga kita bisa bersandar setelah perjalanan cukup jauh dari rumah-rumah clan Nemusto" dia menunjuk pohon besar nan rindang itu.
      "Aku juga lelah, Al" aku menghela nafas berat dan berjalan kearah pohon besar itu lalu dengan segera duduk bersandar dipohon itu.
Alca menghampiriku dan duduk bersandar disampingku.
      "Kau belum menceritakan apa tujuanmu berkelana, Ze"
      "Ah... Aku lelah Alca" aku harap Alca memaklumi dirinya yang memang terhitung sebagai orang asing untukku, aku harap juga dia masih mengingat perkataanku saat di gua Galchone itu.
      "Ah iya aku lupa, perkataanmu sewaktu di gua Galchone itu yang tidak akan memberi tahukan apapun pada orang asing"
Aku menangguk kaku. Apa dia memang ingat tepat saat aku sedang memikirkannya atau dia sebenarnya memang bisa membaca pikiranku? Ah memangnya clan apa yang bisa membaca pikiran itu? Ya aku tahu, ketidaktahuanku akan kekuataan dari masing-masing clan di Negeri Maldhivyst ini sangat sangat tidak membantuku untuk mengenali dari clan apakah mereka-mereka itu.
      "Lo siento Al..." Aku menoleh kearahnya tetapi dia telah jatuh terlelap. Aku menghela nafas lega. Untung saja dia sudah terlelap. Aku merasakan mataku sudah mulai berat dan yang terakhir kulihat hanyalah gelap.
~
Aku mendesah pelan terbangun karna mendengar suara yang cukup bising.
      "Apa itu?" Aku mengerjapkan mataku berkali-kali mencoba menyesuaikan mataku dengan cahaya yang muncul dari celah-celah pepohonan.
Kumelirik kearah Oscuro lalu mencari-cari seseorang lagi "Alca, dimana kau?"
Tiba-tiba seseorang yang dicari datang juga "Hey darimana saja, Al?"
Dia semakin mendekatkan dirinya kepadaku "ayo cepat pergi dari sini"
Aku memandangnya bingung. Memangnya ada apa?
      "Demon, disekitar sini. Entah apa yang dicarinya sepertinya hal penting karna mereka terlihat terlibat langsung padahal biasanya mereka tak ingin susah-susah, tapi kita harus pergi dari sini secepatnya!" Sepertinya dia bisa membaca pikiranku, ya? Tiba-tiba tanpa menunggu persetujuanku dia langsung menarik tanganku dan berlari secepatnya
      "Apa yang para Demon itu cari? Mengapa mereka tidak menyuruh clan lain yang bersekongkol dengan mereka untuk mencari 'sesuatu' itu? Tapi mengapa mereka malah keluar dari Inferno--neraka-- dan malah turun langsung mencari 'sesuatu' itu? Dan sebenarnya apa sesuatu itu?" Dia terus memegang tanganku kencang sambil terus berlari sejauh mungkin. Oke aku mulai lelah, Alca.
      "Simpanlah pertanyaanmu itu nanti saat sudah aman, Zeca dan sebenarnya aku juga sama lelahnya denganmu" oh oke. Aku makin yakin dia sepertinya bisa membaca pikiranku.
Dia terus menggenggam tanganku semakin erat tapi tiba-tiba dia menghentikan berlarinya membuat badanku yang berhenti mendadak menabrak dirinya. Ada ap..? Oh! Oh!
Alca menarikku kebelakang tubuhnya seolah menjadikan tubuhnya tameng untuk melindungiku.
Aku merasakan hawa panas disekitar sini, semakin dekat hawa panas itu menyergap kami. Oh gawat! Apa dia sedang mendekati kami?
      "Hahahahaha lihat siapakah kedua orang ini? Dan oh hallo Alca!" Salah seorang dari para Demon yang memiliki muka paling menyeramkan menyapa Alca. Kenapa Demon ini mengenal Alca?

Aku menggeram kesal "apa yang kau lakukan disini? Kau tidak ada urusan dengan kami kan? Menjauhlah kami ingin lewat" Aku mencoba keluar dari perlindungan Alca tapi ternyata kekuatannya lebih kuat dari ku. Dia terus menjadikan tubuhnya tameng dan merentangkan sedikit tangannya untuk menjaga agar aku tidak nekat dengan menyerang para Demon itu. Yah tapi memangnya aku senekat itu? Kan tidak, aku juga masih harus menyelesaikan misi penting Negeri Maldhivyst--juga clan Clandestine serta kerajaan Crypt--
"Dengarlah Etrusean kami sedang terburu-buru jadi enyahlah!" Perintah Alca. Kulihat buku-buku jarinya mengeras menandakan dia teramat ingin menghajar seorang Demon yang dipanggil Alca Etrusean itu yang nampaknya dia adalah pemimpin dari para Demon yang ada disini dilihat dari ketenangan yang ditimbulkan walau matanya sarat akan kemurkaan, sangat tenang tapi awas hingga kurasa dia mampu menghalau segala sesuatu yang akan terjadi.
Etrusean itu tersenyum sinis serta menatap Alca tajam "samar aku tadi mencium bau clan Clandestine disini"
Alca balas menatap Etrusean itu tak kalah tajam tapi tetap bisa menguasai diri "lalu? Apa urusannya denganku?"
Etrusean mengibaskan tangan mengerikannya yang sedikit berselaput dengan kuku-kuku tajam membingkai tangannya "tak penting! tapi sebenarnya aneh juga jika ada clan Clandestine berjalan jalan keluar dari wilayah Cryptonine yang bebas dari sinar matahari itu dan berjalan di hutan Altophrodite ini karna meskipun tak terlalu mendapat penyinaran yang cukup tapi terdapat celah-celah dari pepohonan yang tak sedikit menyinari hutan ini"
      "Hanya itu? Baiklah aku dan Zeca sedang terburu-buru" Alca menarik tangan kananku mencoba menjauh dari para Demon menyeramkan ini. Tapi tiba-tiba tangan kiriku dicengkram oleh Eteusean, aku mencoba melepas tanganku dari genggaman kuat Etrusean ini.
      "Etrusean Charun!" Alca menepis tangan mengerikan Etrusean dari tanganku. Eh tunggu! Sepertinya nama Charun tak asing bagiku. Oh jangan sampai dia ini...
      "Etrusean Charun? Kau.. Kau yang telah membunuh Eugene bukan!" Aku mencoba lepas dari perlindungan Alca, tapi gagal. Aku sungguh kesal dengan Etrusean Charun ini, tidak perduli dia adalah anak dari raja Demon yang kelak akan menjadi raja Demon.
Etrusean tersenyum sinis "oh Eugene ya? Kau kenal dengan dengannya? Em...kupikir dia orang yang penting buatmu sampai kau begitu murkanya"
Aku menatapnya tajam "ya! Mengapa kau membunuh Eugene?!"
Dia kembali tersenyum sinis yang membuatku semakin muak saja dengannya "itu urusan yang tak boleh kau ketahui! Tak penting untuk kau ketahui kecuali kau clan Clandestine"
      "Tapi dia bukanlah clan Clandestine! Dia clan Vanth--makhluk penguasa dunia bawah--"
Etrusean tertawa keras "kau belum tau apa-apa!"
Aku memandangnya geram "apa maksudmu?!"
Dia kembali tertawa bernada meremehkan itu tanpa menjawab apa-apa. Arghhhh aku harus membunuhnya dengan pedang kadukeus-ku. Tapi tunggu! Jika aku membuka pedangku akan terlihat corak khas clan Clandestine di badan pedang itu serta ukiran khas di kepala pedang itu yang bertahtakan batu Sapphirubyqua yang bewarna perak berkilau. Aku harus menahan hasrat ku untuk membunuh Etrusean sampai aku telah menyelesaikan misi clan ku ini.
      "Baiklah tidak penting berada disini" Etrusean dan para Demon beranjak pergi dari hadapan kami. Aku memandanginya dengan penuh kebencian. Tunggulah waktunya Etrusean!
Aku menghela nafas lega setelah kepergian Demon menyeramkan itu. Tiba-tiba Alca memegang pundakku. "Tenanglah pengacau itu sudah pergi" Alca mencoba menenangkanku
Aku mengangguk "ya aku tahu, tapi kenapa dia mengetahuimu? Juga kau mengetahuinya?"
Alca tersenyum. Tapi aku tidak mengerti arti senyumnya itu "Itu masalah pribadi, Zeca. Bukankah kau tak suka jika ada yang bertanya tentang hal-hal pribadi mu?" Dia kembali tersenyum.
Aku mengangguk lesu. Yah memang ada beberapa hal-hal pribadi yang tidak layak dan tidak baik untuk diketahui oleh orang lain. Aku tahu itu. "Ya aku tahu, Alca"
      "Jika ada waktunya kelak, kau juga akan tahu. Tapi sekarang masalahnya kau terhitung orang asing buatku. Aku juga sepertimu tidak ingin membicarakan hal-hal pribadi kepada orang asing"
Aku kembali mengangguk "aku mengerti, baiklah ayo kita lanjutkan perjalanan. Perjalanannya masih jauh" kami berniat melanjutkan perjalanan kembali. Baru 2 hari berarti tinggal 58 hari lagi

Author's POV
Etrusean menggeram kesal sesampainya di Lembah Inferno sembari terus menatap intens kearah lawan bicaranya yang berasal dari lain clan itu
      "Bagaimana ini?! Aku hanya bisa mencium bau dari clan Clandestine secara samar tanpa bisa menerka dari arah mana dia berasal"
Lawan bicara dari Etrusean itu tersenyum sinis "berarti clan Clandestine kali ini tidak bisa diremehkan, dia memiliki kekuatan rahasia yang masih belum kita ketahui, tapi aku punya ide"
Etrusean ikut tersenyum sinis dengan kilat mata yang sarat akan kelicikan tak jauh berbeda dengan lawan bicaranya itu "baiklah Prudencio, apa ide mu?"
Lawan bicara Etrusean yang dipanggil Prudencio itu kembali tersenyum sinis yang penuh akan tipu muslihat licik.

Septina's Journal

Developer

Cras justo odio, dapibus ac facilisis in, egestas eget quam. Curabitur blandit tempus porttitor. Vivamus sagittis lacus vel augue laoreet rutrum faucibus dolor auctor.

0 komentar:

Posting Komentar