Waiting for the time

by 06.59 0 komentar
By: Septina indah Yulamoga



    Aku menghela nafas.

Lagi dan lagi… aku terus melihat dia dari kejauhan. Dia berjalan santai di pinggir kelas kelas seolah hanya melindungi sisi kanannya tak perduli dengan sisi kirinya yang kebasahan akibat hujan yang sedang melanda daerah sekolah ku. Terus berjalan hingga dia tak terlihat lagi di belokan lorong menuju kelasnya.

    Aku menghela nafas. Lagi. Lagi.

Aku berhenti menatap belokan lorong yang sehabis dilewatinya. Dia membuatku sadar lebih baik melihat dari jauh dan tidak ada seorangpun yang tahu daripada ada didekatnya tetapi dia telah mengetahui yang hanya bisa membuatku kaku. Tapi terlambat. Dia telah tahu. Hanya karna kebodohanku. Tidak tidak. Tidak hanya karna kebodohanku tapi juga kecerobohanku. Harusnya aku tetap pada diriku yang semula. Tetap memendam masalah yang ada tanpa seorangpun yang tahu apa masalahku. Harusnya aku tidak perlu berubah.

    Aku menghela nafas. Lagi. Lagi. Lagi.

Aku menyukainya sejak hari pertama sekolah. Melihatnya duduk bersama teman temannya disekitar pohon. Pohon cinta. Mungkin pohon itu memiliki energy magis. Mata itu seolah menghipnotisku menyedotku masuk kedalam lingkaran hitam indah itu seperti blackhole, rambut halusnya bergoyang lembut seolah dibelai angin dan tentu saja senyum itu, senyum yang manis tanpa suara yang mampu membuatku menyukainya. Tapi tahun pertahun telah berlalu. Sekarang aku memasuki kelas 2 sedangkan dia berada dikelas 3. Ya benar. Dia adalah kakak kelasku. Waktuku hanya tinggal satu tahun lagi untuk terus melihatnya dari kejauhan.
   Menunggu waktu yang tepat. Untuk berhenti.
Karna aku merasa seperti tersedot di lumpur hisap. Semakin banyak bergerak maka akan terhisap semakin dalam bahkan jauh melampaui yang seharusnya. Juga seperti marmut dalam sebuah roda seolah berjalan jauh hingga lelah padahal tetap pada tempatnya dan tidak tahu kapan berhenti.

   Aku menghela nafas. Lagi. Lagi. Lagi. Lagi.

Waktu berlalu sangatlah cepat. Seolah baru kemarin aku melihatnya. Tapi sekarang sudah saat nya. Saat untuk berhenti. Hari ini adalah hari perpisahan kelas 3. Entah apa perasaanku saat ini. Aku menginginkan hari ini karna memang hari ini aku akan melihatnya dalam balutan jas seperti fotonya saat perpisahan di kelas 9. Tapi aku juga tidak menginginkanya, karna itu berarti hari ini aku terakhir kali melihatnya untuk waktu yang lama.

   Aku menghela nafas. Lagi. Lagi. Lagi. Lagi. Lagi.

Aku masuk seraya terus menatap lurus gedung ini. Memegang erat kameraku. Ini hari terakhirku melihatnya untuk waktu yang lama. Aku harus mempergunakan kesempatan terakhir ini. Aku duduk gelisah dibangku ku memikirkan kata yang cocok untuk itu. Waktu berlalu seolah sangat cepat. Telah selesai. Anak anak kelas 3 maupun kelas 2 telah berangsur angsur keluar dari ruangan untuk berfoto foto diluar. Aku menatap gelisah kameraku. Untuk yang terakhir. Kesempatan terakhir dan tak ada lagi peluang untuk itu.

   Aku menghela nafas. Lagi. Lagi. Lagi. Lagi. Lagi. Lagi.

Aku berjalan keluar ruangan dan berniat untuk menghampirinya. Jantungku berdetak kencang tidak karuan. Aku takut untuk itu. Tapi ini kesempatan terkhir untukku. Ya atau tidak sama sekali. Aku berjalan menghampirinya dan mengajaknya untuk berfoto agak menjauh dari kerumunan anak anak kelas 3. Dia menyanggupinya.

   Aku menghela nafas. Lagi. Lagi. Lagi. Lagi. Lagi. Lagi. Lagi.


“kak aku suka sama kamu” setelah bergulat dengan perasaan dan logikaku, akhirnya aku mengakuinya juga. Aku lelah untuk memendam. Dan aku hanya bisa menunduk saat dia berkata “maaf”. Aku tahu semua akan berakhir begini, tetapi aku lega karna telah mengakuinya seolah beban beratku selama 3 tahun ini terangkat sudah. Aku menatapnya lalu mengangguk dan mengatakan “gak apa apa dan… terima kasih” hampir tanpa suara karna seolah suaraku tercekat tak mau keluar. aku berjalan melaluinya dibelakang. Aku tahu saat itu akan tiba dan tinggal menunggu waktunya. Jadi inilah saatnya. Saat untuk berhenti. aku tersenyum lega. Setidaknya aku telah mengakuinya dan belajar untuk merelakan dan melepaskannya. Dan disinilah aku. Telah menunggunya .Telah mengakuinya. Juga belajar untuk mengikhlaskannya. 
   Dan aku tidak akan memaksa diriku untuk melupakannya. Karna aku sadar akan sulit untuk itu.

Septina's Journal

Developer

Cras justo odio, dapibus ac facilisis in, egestas eget quam. Curabitur blandit tempus porttitor. Vivamus sagittis lacus vel augue laoreet rutrum faucibus dolor auctor.

0 komentar:

Posting Komentar