By: Septina indah Yulamoga
Aku menghela nafas.
Lagi dan
lagi… aku terus melihat dia dari kejauhan. Dia berjalan santai di pinggir kelas
kelas seolah hanya melindungi sisi kanannya tak perduli dengan sisi kirinya
yang kebasahan akibat hujan yang sedang melanda daerah sekolah ku. Terus
berjalan hingga dia tak terlihat lagi di belokan lorong menuju kelasnya.
Aku menghela nafas. Lagi. Lagi.
Aku berhenti
menatap belokan lorong yang sehabis dilewatinya. Dia membuatku sadar lebih baik
melihat dari jauh dan tidak ada seorangpun yang tahu daripada ada didekatnya
tetapi dia telah mengetahui yang hanya bisa membuatku kaku. Tapi terlambat. Dia
telah tahu. Hanya karna kebodohanku. Tidak tidak. Tidak hanya karna kebodohanku
tapi juga kecerobohanku. Harusnya aku tetap pada diriku yang semula. Tetap
memendam masalah yang ada tanpa seorangpun yang tahu apa masalahku. Harusnya
aku tidak perlu berubah.
Aku menghela nafas. Lagi. Lagi. Lagi.
Aku
menyukainya sejak hari pertama sekolah. Melihatnya duduk bersama teman temannya
disekitar pohon. Pohon cinta. Mungkin pohon itu memiliki energy magis. Mata itu
seolah menghipnotisku menyedotku masuk kedalam lingkaran hitam indah itu
seperti blackhole, rambut halusnya bergoyang lembut seolah dibelai angin dan
tentu saja senyum itu, senyum yang manis tanpa suara yang mampu membuatku
menyukainya. Tapi tahun pertahun telah berlalu. Sekarang aku memasuki kelas 2
sedangkan dia berada dikelas 3. Ya benar. Dia adalah kakak kelasku. Waktuku
hanya tinggal satu tahun lagi untuk terus melihatnya dari kejauhan.
Menunggu waktu yang tepat. Untuk berhenti.
Karna aku
merasa seperti tersedot di lumpur hisap. Semakin banyak bergerak maka akan
terhisap semakin dalam bahkan jauh melampaui yang seharusnya. Juga seperti marmut
dalam sebuah roda seolah berjalan jauh hingga lelah padahal tetap pada
tempatnya dan tidak tahu kapan berhenti.
Aku menghela nafas. Lagi. Lagi. Lagi. Lagi.
Waktu
berlalu sangatlah cepat. Seolah baru kemarin aku melihatnya. Tapi sekarang
sudah saat nya. Saat untuk berhenti. Hari ini adalah hari perpisahan kelas 3.
Entah apa perasaanku saat ini. Aku menginginkan hari ini karna memang hari ini
aku akan melihatnya dalam balutan jas seperti fotonya saat perpisahan di kelas
9. Tapi aku juga tidak menginginkanya, karna itu berarti hari ini aku terakhir
kali melihatnya untuk waktu yang lama.
Aku menghela nafas. Lagi. Lagi. Lagi. Lagi.
Lagi.
Aku masuk seraya
terus menatap lurus gedung ini. Memegang erat kameraku. Ini hari terakhirku
melihatnya untuk waktu yang lama. Aku harus mempergunakan kesempatan terakhir
ini. Aku duduk gelisah dibangku ku memikirkan kata yang cocok untuk itu. Waktu
berlalu seolah sangat cepat. Telah selesai. Anak anak kelas 3 maupun kelas 2
telah berangsur angsur keluar dari ruangan untuk berfoto foto diluar. Aku
menatap gelisah kameraku. Untuk yang terakhir. Kesempatan terakhir dan tak ada
lagi peluang untuk itu.
Aku menghela nafas. Lagi. Lagi. Lagi. Lagi.
Lagi. Lagi.
Aku berjalan
keluar ruangan dan berniat untuk menghampirinya. Jantungku berdetak kencang
tidak karuan. Aku takut untuk itu. Tapi ini kesempatan terkhir untukku. Ya atau
tidak sama sekali. Aku berjalan menghampirinya dan mengajaknya untuk berfoto
agak menjauh dari kerumunan anak anak kelas 3. Dia menyanggupinya.
Aku menghela nafas. Lagi. Lagi. Lagi. Lagi.
Lagi. Lagi. Lagi.
“kak aku
suka sama kamu” setelah bergulat dengan perasaan dan logikaku, akhirnya aku
mengakuinya juga. Aku lelah untuk memendam. Dan aku hanya bisa menunduk saat
dia berkata “maaf”. Aku tahu semua akan berakhir begini, tetapi aku lega karna
telah mengakuinya seolah beban beratku selama 3 tahun ini terangkat sudah. Aku
menatapnya lalu mengangguk dan mengatakan “gak apa apa dan… terima kasih” hampir tanpa
suara karna seolah suaraku tercekat tak mau keluar. aku berjalan melaluinya
dibelakang. Aku tahu saat itu akan tiba dan tinggal menunggu waktunya. Jadi
inilah saatnya. Saat untuk berhenti. aku tersenyum lega. Setidaknya aku telah
mengakuinya dan belajar untuk merelakan dan melepaskannya. Dan disinilah aku. Telah menunggunya .Telah mengakuinya. Juga belajar untuk mengikhlaskannya.
Dan aku tidak akan memaksa diriku untuk melupakannya. Karna aku sadar
akan sulit untuk itu.

0 komentar:
Posting Komentar