By: Septina Indah Yulamoga
“aku gak bisa. Aku udah nyaman kita
sebagai teman. Kamu selalu bisa membuatku tenang dan perasaan tenang, nyaman
dan damai itu karna kamu teman terbaikku. Aku gak pernah bisa membayangkan kita
lebih dari pertemanan. Aku lebih suka begini. Aku udah menganggap kamu sebagai
teman dan hal itu gak bakal pernah berubah untukku. Kamu tolong mengerti hal
ini”
Dulu aku
selalu butuh waktu sendirian. Tak pernah terpikir aku kan membutuhkanmu
saat aku menangis. Tak terpikir aku kan membutuhkanmu disaat aku jatuh
terpuruk. Tak pernah terpikir aku membutuhkanmu disaat aku kehilangan arah tak
tentu tujuan. Kehilangan dirimu seperti kehilangan alasan untuk tetap bertahan.
Aku berharap waktu dapat diputar sehingga kejadian itu tak perlu terjadi.
Kejadian yang membuat diriku sangat sangat menyesalinya. Kejadian yang membuat
alasanku untuk tetap bertahan hilang. Kejadian demi kejadian buruk itu terus
menghantuiku seperti kilasan balik sebuah film. Menikamku dengan kata kata yang
kuucapkan sendiri. Seperti boomerang. Benda itu pasti akan kembali kepada
pemiliknya.
Tak pernah
kumerasa seperti ini sebelumnya. Segala yang kulakukan mengingatkanku padamu.
Segala yang kurasa menghujam jantungku. Rasa sesak memenuhi hatiku. Aku ingin
seperti dulu. Tapi kurasa itu tidak mungkin. Kamu telah menemukan alasanmu
untuk menjauh dariku.aku bisa apa? Aku sadar. Sangat sangat sadar ini semua
kesalahanku. Aku harus bisa menerima konsekuensi dari apa yang kulakukan ini.
Saat kau tak ada, seluruh hatiku merindukanmu. Saat kau tak ada, wajah yang mulai kukenal juga hilang. Saat kau tak ada, kata-kata yang perlu kudengar untuk membuatku mampu melalui hari dan tetap baik-baik saja. Aku merindukanmu. Aku mampu melewati hari yang berat karnamu. Mampu bertahan dikeadaan sulit karna kamu selalu menjadi penyemangatku. Selalu menemaniku kapanpun itu. Tak pernah kesal disaat ku selalu mengeluh. Kau selalu bisa membuatku merasa lebih baik dari apapun. Juga siapapun.
Saat kau
berlalu pergi kuhitung langkah-langkahmu. Tahukah kau betapa aku sangat
membutuhkanmu saat ini. Kau berlalu begitu saja saatku terus mengawasimu. Tak
tahu kah kau aku begitu sakit menerimanya? Aku sadar. Teramat sadar keadaan ini
semua salahku. Mencoba menerima keadaan. Keadaan yang kubuat ini. Tetapi apakah
aku salah jika aku menginginkan kesempatan kedua? Apakah salah jika aku ingin
membenahi keadaan? Apakah ini salah satu bentuk keegoisanku? Tidak tidak. Ini
bukan keegoisan. Aku hanya menginginkan keadaan membaik. Setidaknya kita tidak
seperti ini. Tidak seperti tak pernah ada kata “kita”. bagaimana jika aku menginginkan
keadaan yang dulu selalu bisa membuatku merasa damai bersamamu? Merasa aman
didekatmu. Juga merasa senang selalu berada disampingmu. Salahkah aku?
Dan
hari-hari terasa lama berlalu seperti saat aku sendiri. Tak pernah kumerasa aku
kan seperti ini. Kurasakan aku bukankah diriku. Segalanya telah berubah.
Segalanya membuat diriku berubah. Aku bahkan tak kenal diriku ini. Waktu terasa
lambat berjalan. Setiap orang memiliki perubahan baik. Tidak denganku. Tidak
dengan diriku. Juga kepribadianku. Semuanya telah merubahku. Keadaan ini telah
merubahku. Keadaan tanpa dirimu. Disini. Disampingku. Bersamaku. Seperti dulu.
Sungguh aku begitu merindukan kita seperti dulu. Tawa, canda, senang, sedih,
sukar juga duka.
Saatku telah
menyerah pada keadaan. Disaat ku lelah pada kehidupanku. Disaat semua telah
benar benar berubah. Disaat aku merasa hanya aku lah yang tidak mengalami
perubahan berarti. Kau datang. Hatiku yang semula rapuh terhempas kejinya angin
karma. Hatiku yang semula beku tertiup kejamnya angin kehidupan seolah mencair
oleh kehangatanmu lagi. Aku sadar tanpa dirimu takkan ada alasan untuk tetap
bertahan disini. Sekarang aku mengerti. Arti hadirmu teramat penting untukku.
Juga hidupku.
Kini aku sadar akan satu hal itu. Aku
juga menyukaimu. Melebih persahabatan.
Kini aku
tahu makna dari semua ini. Waktu telah menyadarkanku. Menuntunku ke dasar
hatiku. Menyadarkanku akan perasaanku. Perasaan itu. Perasaanku kepadamu.
“estoy loco porti!--aku
menyayangimu!”
“tea mo demesiando!--aku juga menyayangimu”

0 komentar:
Posting Komentar