When you're gone

by 08.19 0 komentar
 By: Septina Indah Yulamoga


“aku gak bisa. Aku udah nyaman kita sebagai teman. Kamu selalu bisa membuatku tenang dan perasaan tenang, nyaman dan damai itu karna kamu teman terbaikku. Aku gak pernah bisa membayangkan kita lebih dari pertemanan. Aku lebih suka begini. Aku udah menganggap kamu sebagai teman dan hal itu gak bakal pernah berubah untukku. Kamu tolong mengerti hal ini”

    Dulu aku selalu butuh waktu sendirian. Tak pernah terpikir aku kan membutuhkanmu saat aku menangis. Tak terpikir aku kan membutuhkanmu disaat aku jatuh terpuruk. Tak pernah terpikir aku membutuhkanmu disaat aku kehilangan arah tak tentu tujuan. Kehilangan dirimu seperti kehilangan alasan untuk tetap bertahan. Aku berharap waktu dapat diputar sehingga kejadian itu tak perlu terjadi. Kejadian yang membuat diriku sangat sangat menyesalinya. Kejadian yang membuat alasanku untuk tetap bertahan hilang. Kejadian demi kejadian buruk itu terus menghantuiku seperti kilasan balik sebuah film. Menikamku dengan kata kata yang kuucapkan sendiri. Seperti boomerang. Benda itu pasti akan kembali kepada pemiliknya.

    Tak pernah kumerasa seperti ini sebelumnya. Segala yang kulakukan mengingatkanku padamu. Segala yang kurasa menghujam jantungku. Rasa sesak memenuhi hatiku. Aku ingin seperti dulu. Tapi kurasa itu tidak mungkin. Kamu telah menemukan alasanmu untuk menjauh dariku.aku bisa apa? Aku sadar. Sangat sangat sadar ini semua kesalahanku. Aku harus bisa menerima konsekuensi dari apa yang kulakukan ini.

    Saat kau tak ada, seluruh hatiku merindukanmu. Saat kau tak ada, wajah yang mulai kukenal juga hilang. Saat kau tak ada, kata-kata yang perlu kudengar untuk membuatku mampu melalui hari dan tetap baik-baik saja. Aku merindukanmu. Aku mampu melewati hari yang berat karnamu. Mampu bertahan dikeadaan sulit karna kamu selalu menjadi penyemangatku. Selalu menemaniku kapanpun itu. Tak pernah kesal disaat ku selalu mengeluh. Kau selalu bisa membuatku merasa lebih baik dari apapun. Juga siapapun.

    Saat kau berlalu pergi kuhitung langkah-langkahmu. Tahukah kau betapa aku sangat membutuhkanmu saat ini. Kau berlalu begitu saja saatku terus mengawasimu. Tak tahu kah kau aku begitu sakit menerimanya? Aku sadar. Teramat sadar keadaan ini semua salahku. Mencoba menerima keadaan. Keadaan yang kubuat ini. Tetapi apakah aku salah jika aku menginginkan kesempatan kedua? Apakah salah jika aku ingin membenahi keadaan? Apakah ini salah satu bentuk keegoisanku? Tidak tidak. Ini bukan keegoisan. Aku hanya menginginkan keadaan membaik. Setidaknya kita tidak seperti ini. Tidak seperti tak pernah ada kata “kita”. bagaimana jika aku menginginkan keadaan yang dulu selalu bisa membuatku merasa damai bersamamu? Merasa aman didekatmu. Juga merasa senang selalu berada disampingmu. Salahkah aku?

    Dan hari-hari terasa lama berlalu seperti saat aku sendiri. Tak pernah kumerasa aku kan seperti ini. Kurasakan aku bukankah diriku. Segalanya telah berubah. Segalanya membuat diriku berubah. Aku bahkan tak kenal diriku ini. Waktu terasa lambat berjalan. Setiap orang memiliki perubahan baik. Tidak denganku. Tidak dengan diriku. Juga kepribadianku. Semuanya telah merubahku. Keadaan ini telah merubahku. Keadaan tanpa dirimu. Disini. Disampingku. Bersamaku. Seperti dulu. Sungguh aku begitu merindukan kita seperti dulu. Tawa, canda, senang, sedih, sukar juga duka.

    Saatku telah menyerah pada keadaan. Disaat ku lelah pada kehidupanku. Disaat semua telah benar benar berubah. Disaat aku merasa hanya aku lah yang tidak mengalami perubahan berarti. Kau datang. Hatiku yang semula rapuh terhempas kejinya angin karma. Hatiku yang semula beku tertiup kejamnya angin kehidupan seolah mencair oleh kehangatanmu lagi. Aku sadar tanpa dirimu takkan ada alasan untuk tetap bertahan disini. Sekarang aku mengerti. Arti hadirmu teramat penting untukku. Juga hidupku.
    
    Kini aku sadar akan satu hal itu. Aku juga menyukaimu. Melebih persahabatan.
Kini aku tahu makna dari semua ini. Waktu telah menyadarkanku. Menuntunku ke dasar hatiku. Menyadarkanku akan perasaanku. Perasaan itu. Perasaanku kepadamu.

       “estoy loco porti!--aku menyayangimu!”
       “tea mo demesiando!--aku juga menyayangimu”

Septina's Journal

Developer

Cras justo odio, dapibus ac facilisis in, egestas eget quam. Curabitur blandit tempus porttitor. Vivamus sagittis lacus vel augue laoreet rutrum faucibus dolor auctor.

0 komentar:

Posting Komentar